LAHIR LANGSUNG BISA BERLARI
KENAPA TIDAK (CATATAN KECIL UNTUK GROWERS PEMULA)
Oleh : Kang Pipin
Para pembudidaya jamur (growers) yang berhasil, lebih banyak menginspirasi masyarakat atau pengusaha lain untuk terjun ke dunia usaha jamur tiram.
Bagaimana kalau yang membeli log kita sebut pengusaha jamur, dan yang usaha jamurnya dimulai dari membuat log kita sebut saja pembudidaya (grower).
Bagi grower pemula (berarti baru mulai,...hehehe kadang ada juga sih yang sudah bertahun-tahun masih level pemula, hehehe levelnya, bukan mulainya) kadang fokus perhatian tertuju pada hasil panen saja, padahal hasil panen itu ijazah, bukan proses memperoleh ijazah. Untuk panen sesuai keinginan, tentu kita harus memperhatikan keinginan jamur yang kita pelihara. Kalau usaha jamur itu GAMPANG, kenapa banyak yang berjatuhan. Kalau usaha jamur itu MUDAH, kenapa banyak yang gulung tikar. Kalau usaha jamur itu SEPELE, kenapa banyak yang kecele..
Tapi seperti kata pepatah "Mati Satu Tumbuh Seribu", growers tumbuh silih berganti. Daaannn tak pernah mati, ini berarti prospek usaha jamur itu masih ceraaaah. Saya coba kumpulkan catatan-catatan kecil dari berbagai pengalaman teman-teman, yang mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita semua.
Catatan ini saya beri judul "Lahir langsung bisa berlari, Kenapa tidak". Judul ini paling tidak mampu memberikan gambaran bahwa banyak para pemula langsung berhasil, bahkan kadang mengalahkan senior-seniornya. Keberuntungan ini tentu saja bukan kebetulan atau datang tiba-tiba dengan sendirinya. Mari kita coba simak catatan mereka :
1. Mengupayakan agar log tidak terkontaminasi oleh jamur hijau/green mould (Trichoderma,sp), karena serangan ini paling besar kontribusinya pada kegagalan budidaya. Beberapa trik menghindarinya adalah sebagai berikut :
a. Pelajari secara seksama bagaimana perlakuan panas dalam Pasteurisasi. Kesalahan dalam pasteurisasi diperkirakan memakan korban sekitar 80% kegagalan.(perlakuan panas lebih rinci silahkan buka entri lain tentang PASTEURISASI pada blog ini juga).
b. Periksa bibit sebelum digunakan, perhatikan titik-titik warna selain putih karena bisa jadi titik-titik itu merupakan koloni jamur lain atau bakteri.
c. Pelajari cara pembibitan (inokulasi) yang aman, kerja dengan memperhatikan kaidah-kaidah hygienis, gunakan alat-alat yang disterilkan dulu (logam bisa dibakar lampu spirtus dulu, plastik atau bahan mudah terbakar bisa dicuci dengan alkohol dulu atau jaman kiwari mah bisa pake "hand sanitizier" yang lebih praktis, logam atau bahan mudah terbakar bisa dengan dikukus dulu...banyak cara laaah).
Bagi yang akan menggunakan koran bekas sebagai tutup dan saringan udara log, sebaiknya kertas setelah dipotong sesuai ukuran dibungkus (dipak) dengan plastik sejumlah 25-25 lembar, kemudian dikukus terlebih dahulu agar lebih aman.
d. Lakukan inokulasi ditempat yang dianggap relatif aman, daerah yang gerak udaranya relatif minim, dan sejenisnya.
e. Perhatikan penggunaan bahan formula log, jika menggunakan bahan tambahan karbohidrat berprotein tinggi seperti dedak sebaiknya jangan lebih dari 20%. Penggunaan karbohidrat yang relatif tinggi (termasuk tepung jagung, tepung beras, tepung tapioka) dan perlakuan panas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menjadi ucapan "SELAMAT DATANG KONTAMINAN".
Dibawah ini grafik illustrasi penyebab kontaminasi trichoderma,sp pada log jamur tiram.
Catatan tambahan : Ada salah satu grower berpendapat "Lebih baik dapat 1 ons daripada log terserang hijau", pendapat ini merupakan gambaran bahwa keselamatan log menjadi urutan paling penting pada proses budidaya.
2. Menggunakan Bibit Jamur yang jelas dan berlkualitas.
a. Mengupayakan penggunaan bibit dari strain dan level yang jelas (jika bibit jamur membeli).
Secara umum penggunaan strain jamur apapun harus memperhitungkan pelanggan, produksi bagus pun kalau tidak cocok dengan pelanggan jadinya ya kurang laku. Kadang ada strain tertentu dibudidayakan disuatu tempat malah basah dan kurang diterima pelanggan.
Hal yang sering menyebabkan kegagalan (kalaupun tidak, kurang berhasil) adalah akibat penggunaan bibit level III (F3), Untuk mengejar keuntungan banyak kalangan menganggap turunan ke 3 (F3) masih bisa digunakan sebagai bibit (kadang diambil dari log biasa yang sudah putih). Sebagai gambaran, Vigouritas (kekuatan) jelajah miselium terus berkurang sesuai tingkatan turunan. Yang bagus ya...bikin sendiri...hehehe tapi yang bisa begini berarti bukan lagi PEMULA.
Sekedar menyemangati saja....Bibit F0 (Fillial Nol-Indukan) biasanya dibuat dengan media Agar (PDA-PSA) dengan wadah tabung reaksi, cawan petri, botol bekas vitamin C cair (UC1000), botol gepeng bekas miras atau madu.
Bibit F1 biasanya dibuat dengan media biji-bijian seperti : Jagung butir, Jagung tumbuk, biji padi, beras, Sorghum, Gandum....yang paling umum biasanya jagung tumbuk butiran. wadahnya ada yang pake plastik (bag), Gelas minum, Botol bekas saus (paling umum dipakai).
F2 biasanya dibuat dari jagung murni, serbuk gergaji+jagung, serbuk gergaji+biji padi, serbuk gergaji+sorghum/gandum, atau serbuk gergaji murni+tepung jagung, beras dan banyak lagi. Pada artikel2 lain di dunia maya sudah banyak dimuat, tinggal mempelajari.
Contoh bibit F0 dan F1
Contoh Bibit Jamur F2 (botol atau palstik)
Contoh sumber bibit jamur tiram
3. Mengupayakan Formula Baglog menggunakan bahan-bahan berkualitas dengan BE/BER tinggi. (pada kesempatan lain macam-macam formula baglog untuk tiram beserta nilai-nilai BE/BERnya akan saya usahakan di upload juga). Penggunaan bahan tambahan kadang dianggap semakin banyak semakin meningkatkan tingginya produksi. Meskipun pendapat ini mungkin saja benar, tapi tetap ada batasan-batasan tertentu.
Kita ambil contoh : Prof Quimio dari Philipina menggunakan dedak 20% pada
jerami bekas jamur merang bisa menghasilkan tubuh buah jamur antara 300 g - 600 g/Kg Baglog.
Bahan tambahan yang dianggap penting dalam formula biasanya dedak halus, tepung jagung, tepung kanji (tapioka), kadang tepung lain yang berprotein sangat tinggi. Bahan-bahan ini jika digunakan secara tunggal atau kombinasi sebaiknya bobot totalnya jangan lebih dari 20% dari bobot serbuk gergaji sebagai bahan utama, kecuali sangat mengerti teknik-teknik lain untuk menghindari mudahnya kontaminasi jamur lain atau bakteri.
(tiga dulu yaaa, capek banget nih....sampai jumpa !!)
Salam growers Indonesia.).