Selasa, 07 Agustus 2012

KEMANA MENDAPATKAN OLA TERDEKAT





 

Jika Anda memiliki akun Facebook, silahkan hubungi :
1. mbak MAYANK SRIKANDI untuk wilayah BALI dan NTB
2. WKD Pati Jateng, untuk wilayah Jawa Tengah
3. Phip Apriatna, untuk wilayah JABODETABEK dan Prop Banten

4. Segera ada di Lampung, Khairana Agro Mushroom.....
5. Darwis PATIH Mushroom (sebagai owner) untuk wilayah Subang, Purwakarta dan sekitarnya

Rabu, 13 Juni 2012

LAHIR LANGSUNG BISA BERLARI
KENAPA TIDAK (CATATAN KECIL UNTUK GROWERS PEMULA)
Oleh : Kang Pipin

Para pembudidaya jamur (growers) yang berhasil, lebih banyak menginspirasi masyarakat atau pengusaha lain untuk terjun ke dunia usaha jamur tiram.
Bagaimana kalau yang membeli log kita sebut pengusaha jamur, dan yang usaha jamurnya dimulai dari membuat log kita sebut saja pembudidaya (grower).
Bagi grower pemula (berarti baru mulai,...hehehe kadang ada juga sih yang sudah bertahun-tahun masih level pemula, hehehe levelnya, bukan mulainya) kadang fokus perhatian tertuju pada hasil panen saja, padahal hasil panen itu ijazah, bukan proses memperoleh ijazah. Untuk panen sesuai keinginan, tentu kita harus memperhatikan keinginan jamur yang kita pelihara. Kalau usaha jamur itu GAMPANG, kenapa banyak yang berjatuhan. Kalau usaha jamur itu MUDAH, kenapa banyak yang gulung tikar. Kalau usaha jamur itu SEPELE, kenapa banyak yang kecele..
Tapi seperti kata pepatah "Mati Satu Tumbuh Seribu", growers tumbuh silih berganti. Daaannn tak pernah mati, ini berarti prospek usaha jamur itu masih ceraaaah. Saya coba kumpulkan catatan-catatan kecil dari berbagai pengalaman teman-teman, yang mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita semua.

Catatan ini saya beri judul "Lahir langsung bisa berlari, Kenapa tidak". Judul ini paling tidak mampu memberikan gambaran bahwa banyak para pemula langsung berhasil, bahkan kadang mengalahkan senior-seniornya. Keberuntungan ini tentu saja bukan kebetulan atau datang tiba-tiba dengan sendirinya. Mari kita coba simak catatan mereka :
1. Mengupayakan agar log tidak terkontaminasi oleh jamur hijau/green mould (Trichoderma,sp), karena   serangan ini paling besar kontribusinya pada kegagalan budidaya. Beberapa trik menghindarinya adalah sebagai berikut :
    a. Pelajari secara seksama bagaimana perlakuan panas dalam Pasteurisasi. Kesalahan dalam pasteurisasi diperkirakan memakan korban sekitar 80% kegagalan.(perlakuan panas lebih rinci silahkan buka entri lain tentang PASTEURISASI pada blog ini juga).
    b. Periksa bibit sebelum digunakan, perhatikan titik-titik warna selain putih karena bisa jadi titik-titik itu merupakan koloni jamur lain atau bakteri.
    c. Pelajari cara pembibitan (inokulasi) yang aman, kerja dengan memperhatikan kaidah-kaidah hygienis, gunakan alat-alat yang disterilkan dulu (logam bisa dibakar lampu spirtus dulu, plastik atau bahan mudah terbakar bisa dicuci dengan alkohol dulu atau jaman kiwari mah bisa pake "hand sanitizier" yang lebih praktis, logam atau bahan mudah terbakar bisa dengan dikukus dulu...banyak cara laaah).
Bagi yang akan menggunakan koran bekas sebagai tutup dan saringan udara log, sebaiknya kertas setelah dipotong sesuai ukuran dibungkus (dipak) dengan plastik sejumlah 25-25 lembar, kemudian dikukus terlebih dahulu agar lebih aman.
    d. Lakukan inokulasi ditempat yang dianggap relatif aman, daerah yang gerak udaranya relatif minim, dan sejenisnya.
    e. Perhatikan penggunaan bahan formula log, jika menggunakan bahan tambahan karbohidrat berprotein tinggi seperti dedak sebaiknya jangan lebih dari 20%. Penggunaan karbohidrat yang relatif tinggi (termasuk tepung jagung, tepung beras, tepung tapioka) dan perlakuan panas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menjadi ucapan "SELAMAT DATANG KONTAMINAN".
Dibawah ini grafik illustrasi penyebab kontaminasi trichoderma,sp pada log jamur tiram.



Catatan tambahan : Ada salah satu grower berpendapat "Lebih baik dapat 1 ons daripada log terserang hijau", pendapat ini merupakan gambaran bahwa keselamatan log menjadi urutan paling penting pada proses budidaya.

2. Menggunakan Bibit Jamur yang jelas dan berlkualitas.
a. Mengupayakan penggunaan bibit dari strain dan level yang jelas (jika bibit jamur membeli).
Secara umum penggunaan strain jamur apapun harus memperhitungkan pelanggan, produksi bagus pun kalau tidak cocok dengan pelanggan jadinya ya kurang laku. Kadang ada strain tertentu dibudidayakan disuatu tempat malah basah dan kurang diterima pelanggan.
Hal yang sering menyebabkan kegagalan (kalaupun tidak, kurang berhasil) adalah akibat penggunaan bibit level III (F3), Untuk mengejar keuntungan banyak kalangan menganggap turunan ke 3 (F3) masih bisa digunakan sebagai bibit (kadang diambil dari log biasa yang sudah putih). Sebagai gambaran, Vigouritas (kekuatan) jelajah miselium terus berkurang sesuai tingkatan turunan. Yang bagus ya...bikin sendiri...hehehe tapi yang bisa begini berarti bukan lagi PEMULA.
Sekedar menyemangati saja....Bibit F0 (Fillial Nol-Indukan) biasanya dibuat dengan media Agar (PDA-PSA) dengan wadah tabung reaksi, cawan petri, botol bekas vitamin C cair (UC1000), botol gepeng bekas miras atau madu.
Bibit F1 biasanya dibuat dengan media biji-bijian seperti : Jagung butir, Jagung tumbuk, biji padi, beras, Sorghum, Gandum....yang paling umum biasanya jagung tumbuk butiran. wadahnya ada yang pake plastik (bag), Gelas minum, Botol bekas saus (paling umum dipakai).
F2 biasanya dibuat dari jagung murni, serbuk gergaji+jagung, serbuk gergaji+biji padi, serbuk gergaji+sorghum/gandum, atau serbuk gergaji murni+tepung jagung, beras dan banyak lagi. Pada artikel2 lain di dunia maya sudah banyak dimuat, tinggal mempelajari.


                  Contoh bibit F0 dan F1







                                                                        Contoh Bibit Jamur F2 (botol atau palstik)



                                                                                Contoh sumber bibit jamur tiram

3. Mengupayakan Formula Baglog menggunakan bahan-bahan berkualitas dengan BE/BER tinggi. (pada kesempatan lain macam-macam formula baglog untuk tiram beserta nilai-nilai BE/BERnya akan saya usahakan di upload juga). Penggunaan bahan tambahan kadang dianggap semakin banyak semakin meningkatkan tingginya produksi. Meskipun pendapat ini mungkin saja benar, tapi tetap ada batasan-batasan tertentu.
Kita ambil contoh : Prof Quimio dari Philipina menggunakan dedak 20% pada jerami bekas jamur merang bisa menghasilkan tubuh buah jamur antara 300 g - 600 g/Kg Baglog.
Bahan tambahan yang dianggap penting dalam formula biasanya dedak halus, tepung jagung, tepung kanji (tapioka), kadang tepung lain yang berprotein sangat tinggi. Bahan-bahan ini jika digunakan secara tunggal atau kombinasi sebaiknya bobot totalnya jangan lebih dari 20% dari bobot serbuk gergaji sebagai bahan utama, kecuali sangat mengerti teknik-teknik lain untuk menghindari mudahnya kontaminasi jamur lain atau bakteri.
(tiga dulu yaaa, capek banget nih....sampai jumpa !!)

Salam growers Indonesia.).






Senin, 11 Juni 2012


NAIK KERETA API TUUUT....! TUUUUT.....! TUUUUUUUUUUTTTT.....!

 
Kemasan Pasrah....
tanpa bermaksud menghina atau merendahkan OLA, ada seorang kawan menyarankan agar OLA kemasannya diperbaiki...katanya sekarang kan OLA masih dengan "Kemasan Pasrah". Saya dengan hati ikhlas mengakui kritikan membangun itu benar adanya dan ikhlas untuk kebaikan OLA. Ini memotivasi saya untuk mencari biaya agar OLA dapat tampil lebih cantik, lebih kuat, dan lebih pantas.

Terinspirasi oleh para BONEX yang sering menggunakan kereta, saya coba mencari jasa pengiriman barang via kereta agar beberapa teman yang ingin mencoba OLA dari wilayah Jateng, Jogja, dan Jatim dapat terakomodir. Siapa tahu OLA cocok dengan wilayahnya masing-masing, so..akhirnya ada pesanan-pesanan yang mungkin suatu saat akan mengubah penampilan OLA sesuai harapan.

Bagi yang mau coba-coba....silahkan pelajari dan cermati dulu biaya pengirimannya. Hanya saja, biasanya untuk mencoba itu cukup 1/2 liter, dengan jasa ini, baru dianggap ekonomis jika pemesanan percobaan pada kisaran 6 liter (1 box) hingga 24 liter (4 box).

Pesanan OLA akan diberangkatkan dari Stasiun Kereta Api PAGADEN menuju berbagai tujuan dengan perusahaan jasa pengiriman barang yang baru saya sebutkan via HP. Lama pengiriman antara 1 - 2 hari. Pengambilan barang dilakukan di Counter perusahaan cargo bersangkutan di sekitar stasiun kereta api. Berikut nama-nama stasiun tujuan beserta ongkos jasa pengirimannya.

Kelompok I : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.  1.500,-
                      b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  60.000,-
Stasiun Tujuan :
Karawang, Cikampek, Jakarta Kota, Pasar Senen, Manggarai, Bekasi, Bandung, Jatibarang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang.

Kelompok II : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.  2.000,-
                        b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  75.000,-
Stasiun Tujuan :
Tasik Malaya, Banjar, Bumiayu, Purwokerto, Kroya, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Jogjakarta, Klaten, Solo, Sragen, Sidoarjo, Wonokromo, Surabaya,

Kelompok III : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.   3.000,-
                          b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  75.000,-
Stasiun Tujuan :
Paron, Madiun, Caruban, Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto, Cepu, Bojonegoro, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Malang.

Kelompok IV : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.   4.000,-
                         b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  75.000,-
Stasiun Tujuan :
Wligi, Kepanjen

Kelompok V : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.   4.000,-
                        b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  175.000,-
Stasiun Tujuan :
Banyuwangi, Karang Asem, Rogojampi, Temuguruh, Kalisetail, Kalibaru, Kalisat, Jember, Rambipuji, Tanggul, Probolinggo.

Kelompok VI : a. Ongkos per Kg. (diatas 25 kg)      :  Rp.   3.000,-
                         b. Ongkos pengiriman 1-25 kg          :  Rp.  175.000,-
Tujuan :
BALI

Ongkos kirim diatas sesuai daftar yang saya terima dari perusahaan jasa pengiriman barang, kepastiannya setiap saat akan dikonfirmasi saat pemesanan.
Pemesanan OLA via kereta hanya dilayani oleh Kang Pipin.

Terima Kasih,
Salam Growers Indonesia.



























Kamis, 07 Juni 2012

LOG JERAMI PADI BUKAN HAL ANEH DI DUNIA JAMUR TIRAM
Oleh : Kang Pipin

Budidaya jamur tiram banyak dikembangkan di dunia dengan berbagai media. Dari yang sekedar iseng, hingga yang benar-benar serius dengan mempelajari perbandingan pada tingkat Biological Efficiecy berbagai bahan. Semuanya hampir mengangkat tema yang sama, yaitu dengan memanfaatkan limbah organik dari sektor pertanian. Satu catatan penting, jamur tiram sangat adaptif pada berbagai media, sehingga sangat disukai oleh para peneliti sebagai obyek penelitian.
Kalaupun di Indonesia jamur ini hanya dikembangkan secara memasyarakat pada media serbuk gergaji, itu karena alasan kira-kira sebagai berikut :
1. Serbuk gergaji banyak terbuang dan masih dikatagorikan limbah, sehingga harganya murah dan ekonomis sebagai substrat jamur tiram.
2. "Budaya bangsa kita", kalau menggunakan serbuk sudah bisa dan menguntungkan "kenapa capek-capek mikir yang lain".
3. Tidak semua petani di Indonesia memiliki cukup energi, biaya, waktu, kesempatan, dan pengetahuan untuk mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan produktifitas, atau hanya sekedar efisiensi.
4. Hasil penelitian berbagai lembaga pemerintah tentang media jamur tiram non serbuk gergaji terkadang terkendala oleh berbagai hal hingga sulit atau tidak sampai ke tangan petani. Kalaupun bisa sampai terkadang kembali ke no 2 diatas.

Waktu terus berjalan, berbagai perubahan pun banyak terjadi. Penebangan kayu yang tak sebanding dengan penanamannya menyebabkan banyak penggergajian (sawmill) menghentikan kegiatannya, berarti 1 sumber serbuk hilang (terhenti). Tingkat konsumsi jamur yang semakin tinggi di masyarakat menyebabkan permintaan semakin tinggi, memberikan banyak perubahan kesejahteraan pada petani jamur, semakin menarik orang juga untuk menekuni usaha budidaya jamur tiram.
Tapi saat ini permasalahan budidaya ini sudah agak kompleks, selain banyak sawmill yang menghentikan kegiatannya akibat pasokan kayu berkurang, penulis pun tidak tahu persis mengapa pabrik-pabrik semen mulai menggunakan serbuk gergaji. Di beberapa tempat serbuk gergaji semakin langka atau kalau masih cukup harganya semakin mahal.
Permasalahan lain yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung adalah ketersediaan dedak. Berkembangnya usaha peternakan sapi akibat regulasi dan bantuan pemerintah, ditambah kebutuhan-kebutuhan masyarakat lainnya menyebabkan meningkatnya kebutuhan dedak padi. Akhirnya memunculkan dua masalah alami : 
1. Harga dedak makin meningkat diluar toleransi ekonomis para pengguna.
2. Kreatifitas negatif (opportunis) mencampur dedak padi dengan sekam padi yang digiling mirip dedak.
Hal-hal ini sedikit banyak mengganggu tatanan usaha jamur tiram khususnya.

Tulisan yang penulis sajikan ini hanya sekedar menambah jumlah (bukan melengkapi, mengingat kualitas tulisannya sangat sederhana), spiritnya tetap ingin berbagi. Mudah-mudahan pembaca terinspirasi untuk mengembangkan teknologi budidaya jamur tiram pada media jerami yang jauh lebih sempurna.

Jawaban jerami pada tulisan diatas adalah :
1. Setiap tahun akan tersedia 5-7 ton/Ha x rata-rata 2 musim = 10 - 14 ton /ha/tahun.
2. Media jerami tidak menggunakan dedak.
3. Jerami bisa langsung di masukan bag (wadah plastik), di cincang dulu agar lebih kecil, atau dichoped (digiling dengan chopper) terlebih dahulu menjadi serabut.
4. Sebenarnya berbagai penelitian memberikan gambaran hasil bahwa jerami padi BEnya lebih tinggi dibandingkan serbuk gergaji (sayang penulis belum mampu membuktikan, tapi saya yakin hasil penelitian ini benar).
5. Menurut perasaan beberapa pencoba (tanpa uji organoleptik yang tertib dan benar) "katanya" lebih enak karena tidak berbau langau atau bau kurang enak khas jamur, seratnya juga lebih empuk. (tentu ini perlu penelitian lebih lanjut.

Tapi sepiritnya : TAK ADA SERBUK, TAK ADA DEDAK PUN,...BUDIDAYA JAMUR TIRAM TIDAK MATI LANGKAH.

Gambar di bawah ini adalah 1 (satu) baglog hasil uji coba diantara 230 log jerami dengan hasil yang mirip dan mewakili. Kelemahan dan kelebihan tentu saja pasti ada, tapi mencoba sendiri memungkinkan kita dapat mengambil kesimpulan secara lebih pasti. 

Salam Growers Indonesia.





























Minggu, 03 Juni 2012


SEMANGAT JUANG 54 DARI PASUKAN PINHEAD JAMUR TIRAM
PINHEAD 54 MORALE FORCES

Salam growers Indonesia !!

Jika bangsa kita mengenal semangat juang '45, tanpa bermaksud menyepelekan angka'45 saya coba pinjam istilah untuk pasukan pentil (pinhead) jamur tiram, yaitu semangat juang 54. Kedua perbedaan angka diatas tidak ada kaitan atau keterhubungan sama sekali. Mohon maaf tidak bermaksud menyinggung siapapun.
Semangat yaaa semangat.
Setiap growers jamur di seluruh pelosok dunia pasti akan senang jika pasukan pinheadnya tetap semangat keluar dari sarangnya walau dalam keadaan apapun. Tak ada perjuangan pinhead, maka tak ada perjuangan membesarkan tubuh buahnya, duss tak ada pekik Meeerdeka !!! saat jamur dipanen dengan hasil menggembirakan.
Ini regu I (satu)....anggota cukup 4 log.
meskipun pinhead tidak akan jadi semua (dalam 1 log) karena siapa lebih dulu gede, maka dia akan jadi dominator untuk berkembang sempurna menjadi buah (fruit body). Tapi harapan 72 jam kemudian untuk hari kemerdekaan itu akan tiba dengan gemilang. Permukaan putih, kuning, coklat, hitam, gelap gemerlap.... bukan halangan. Pasukan pinhead tetap menembus dari arah depan....(ini yang saya maksud semangat juang 54). 5 muncul, 4 stagnant (diam, meneng, teu ngagedean)....1 membesaaaar ( 1 itu bukan berarti 1 jamur....tapi 1 dompolan atau kelompok jamur).

 Ini regu II....
sebagian berbeda beberapa jam dari lainnya, tapi tampak semangatnya sama "Muncul dari arah permukaan Log". Demikian juga dari regu III di bawah ini, menunjukan semangat yang sama.


Sebelum saya lanjutkan....
gambar-gambar ini saya ambil dari baglog usia 79 hari, produksi rata-ratanya sudah melewati 300 g /baglog, digambar lain nati ditunjukan bahwa baglog masih putih dengan bobot rata-rata masih diatas 700 g. Bobot asal baglog 1,3 - 1,4 kg. Jumlah total log uji 310 buah. Masa pengujian direncanakan 3 bulan (90 hari), tapi mungkin mundur karena kondisi log masih bagus. Formula media biasa saja (dedak tidak lebih dari 10 %).

Catatan khusus
1. baglog-baglog ini diberi perlakuan penyemprotan (pengabutan) OLA 5-6 kali per hari dengan total biaya per baglog per hari : Rp. 3,-
2. 30 % diantaranya merupakan baglog second grade (cacat).

Begini... kalau boleh saya tafsirkan, :
1. Pinhead tidak mengalami kesulitan menembus permukaan log, karena permukaan log tetap lunak (tidak mengeras akibat kekeringan).
2. Pinhead terangsang secara alamiah keluar ke permukaan log dalam jumlah banyak, karena dipermukaan log tersimpan energi dalam jumlah yang lebih dari cukup.
3. Bobot log tidak cepat terkuras, karena air dan nutrisi yang diperlukan cukup dipenuhi secara eksternal. (Panjang umur nih baglog).
4. Tubuh buah berkembang dengan kondisi tetap baik, tidak kurus seperti kekurangan gizi.
5. Baglog second grade tidak menunjukan produktifitas yang berbeda secara signifikan.
6. Di Kota Subang (Suhu siang pada kisaran 28-31 derajat Celsius/April,Mei,Juni 2012). Percobaan sebelumnya buah pertama dari log sebesar tersebut "sulit mencapai 200 g"/log. Hasil saat ini log yang berbuah pertama  250 g atau lebih sedikit ada 11 buah, dan yang mencapai 200 g - 249 g ada 38 buah. surprisse untuk wilayah Subang, mungkin di Lembang, Cipanas atau di tempat dingin lainnya hasil sebegini biasa saja.

Mungkin ini catatan ke depan :
1. Perlakuan ini akan menghilangkan gate production untuk jamur tiram antara daerah panas dan daerah dingin. Produktifitas tetap tinggi.
2. Penambahan biaya perlakuan OLA (dihitung rata-rata 6 x) Rp. 3,- x 120 hari = Rp. 360,- (maksimum)
3. Peningkatan produksi rata-rata diperkirakan (belum selesai tho)...20 - 25 % dari biasanya.
4. Setiap hari pinhead keluar rata-rata 5 %.

Kosimphulan : OLA bukan Zat perangsang, tapi dengan kandungan nutrisinya OLA bukan sekedar merangsang. (silahkan buka Oyster Liquid Accelerator pada halaman lain di blog ini).

ADA YANG MAU ISENG COBA ????

LOG BARU SEMANGAT BARU, plastik log langsung dipotong hingga pundak Log supaya penyemprotan OLA optimal.


LOG LAMA TETAP SEMANGAT (54), pojok kanan atas, plastik log bagian belakang dibuka (bagian depan pasti sudah ditutup) biar pinhead leluasa keluar kaya ekor....hehehe. SMOGA INI JADI INSPIRASI BAGI OLA LOVER di mana saja.
Salam
Kang Pipin





Selasa, 22 Mei 2012

PAYUNG TANI HAYATI (PATIH) SUBANG  bersama GROWERS JAMUR TIRAM
Oleh : Kang Pipin

Jalan-jalan atau dolanan memang asyik. Orang banyak uang sering lebih suka menyebutnya TOUR. Kami lebih enak menyebutnya kuli jalan. Yaaa sambil kuli jalan-jalan, kalau jalan-jalan sambil kuli itu istilah milik para pemulung. Report kuli jalan-jalan ini sengaja saya tampilkan, siapa tahu ada grower lain yang mengundang saya kuli jalan-jalan ke tempatnya masing-masing. Kan kuli saya jadi jalan terus hehehe.
Report I : Kuli jalan-jalan ke Nagrak
Di sekitar wilayah Sukabumi yang sangat sibuk, wiiih jalannya ramai banget, macet melulu, tapi menurut saya ga apa-apa. Macetnya lalu lintas pertanda masyarakat Sukabumi sudah makmur, kampung saya juga pengen makmur kaya Sukabumi. Ada sekelompok orang yang sibuk juga, di bagian wilayah Sukabumi yang agak sepi ( bukan sepi lah..., agak tenang) di daerah Warungkawung. Ada yang sedang mengabut log-log jamur, ada yang sedang panen jamur, ada yang sedang ngangkat keranjang jamur, ada yang sedang sortasi jamur, ada yang sedang menimbang jamur, ada yang sedang menulis nota pembelian jamur......ada yang bengang-bengong, lihat kiri-lihat kanan, yang disebut terakhir memang saya sendiri kok. hehehe lagi cari Pak Iman, pemilik segala kegiatan di sekitar kompleks kumbung jamur tiram tersebut.
Saya malu nanya nama lengkapnya, saya sebut Pak Iman saja. Dia memiliki 20 kumbung ukuran 10m x 15m, isi log tiap kumbung dari 13.000 buah hingga 20.000 buah. Tapi dengan total kumbung sebanyak ini masih keteter juga. Banyak log-log yang masih produktif harus keluar kumbung sebelum waktunya. Hal ini disebabkan produksi baglog per hari mencapai 3.000 buah. Kami turut mendo'akan semoga rencana pembuatan kompleks kumbung baru yang lebih besar di daerah Parung Kuda segera terwujud.
Saya atas nama Payung Tani Hayati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan Bapak kepada produk sederhana kami OLA. Hingga pengiriman ke 3, order tetap bertahan 200 liter per bulan. Andai Payung Tani Hayati punya kemampuan untuk bikin recor-recoran...saat ini Bapak pemegang record pengguna OLA teeeerrrrtiiinnggi. Terima Kasih Pak Iman, semoga lebih dan lebih maju dimasa mendatang.

Penulis diantara Pak Iman (kemeja putih, dua dari kiri) dan
 Darwis dari PATIH Subang (kemeja gelap, dua dari kanan)

Report 2. Kuli jalan-jalan ke kampoeng jamur  -  "OLA ketemu OLA"
Hari masih gelap, sang fajar masih sembunyi, kotak-kotak harapan saya ikat di motor yang belum punya plat nomor. Bukan sok rajin.., bukan juga mengejar waktu..., yang jelas hanya 1 tekad, harus sampai tujuan sepagi mungkin sebelum Bapak-Bapak Polisi bertugas.
Beruntung..sebelum hari mulai sibuk, ban kendaraan sudah menginjak jalan dekat tujuan. Kampung Pari, begitu kata orang-orang yang saya tanya diperjalanan. Masih di sekitar wilayah Cisarua, Lembang.
Woooowww....kampung yang produktif....jadi inget dongeng para anggota Dewan yang berkunjung ke daratan China, "satu rumah-satu pabrik, home industri berkembang pesat disana" (kalimat yang sangat mahal biayanya). Di kampungku Indonesia, ada kampoeng jamur, "satu rumah ada yang tiga kumbung, spirit hidup berkembang pesat disana". (kalimat yang cukup dimodali 5 liter bensin premium-bersubsidi). lho... kok jadi ngomongin orang.
Tidak berlebihan, dalam kesederhanaan kumbung dan teknologi, sebenarnya spirit mereka tidak sederhana. Andai saya RTnya...tapi menyimpan uang negara milyiaran rupiah, pasti sudah saya bangun industri jamur dari hulu sampai hilir yang paling representatif di dunia. (menghayaaaal...).
Mereka asyik, senang bertukar pikiran, mereka ingin maju, mereka juga berharap permasalahan jamur tiramnya selesai satu demi satu, berharap ada kemajuan produksi waktu demi waktu....
Saya sudah punya rencana matang akan menjelaskan keberadaan OLA sebagai mitra grower jamur tiram....tapi semuanya mentertawakan saya. "Kami sudah pake lebih dari 15 kali Pak" katanya...
Oooo...bagus lah hehehe terima kasih...sama saja Bapak-Bapak. Terima kasih sudah mempercayai dan menggunakannnya...
Bagi growers di kampung Pari ini...OLA adalah DOMINATOR...penekan kolor ijo.

                                                                   Penulis dengan sebagian saudara baru

                                                                   Kombinasi spirit tua-muda yang seimbang